Teater lanjutan


  

 

 

 

 

 

 

 

 

BAB III

PENYUTRADARAAN

Pada mulanya pementasan teater tidak mengenal sutradara. Pementasan teater muncul dari sekumpulan pemain yang memiliki gagasan untuk mementaskan sebuah cerita. Kemudian mereka berlatih dan memainkkannya di hadapan penonton. Sejalan dengan kebutuhan akan pementasan teater yang semakin meningkat, maka para aktor

memerlukan peremajaan pemain. Para aktor yang telah memiliki banyak pengalaman mengajarkan pengetahuannya kepada aktor muda. Proses mengajar dijadikan tonggak awal lahirnya “sutradara”. Dalam terminology Yunani sutradara (director) disebut didaskalos yang berarti guru dan pada abad pertengahan di seluruh Eropa istilah yang digunakan untuk seorang sutradara dapat diartikan sebagai master.

  1. Menentukan Lakon

Proses atau tahap pertama yang harus dilakukan oleh sutradara adalah menentukan lakon yang akan dimainkan. Sutradara bisa memilih lakon yang sudah tersedia (naskah jadi) karya orang lain atau membuat naskah lakon sendiri.

1.1 Naskah Jadi

Mementaskan teater dengan naskah yang sudah tersedia memiliki kerumitan tersendiri terutama pada saat hendak memilih naskah yang akan dipentaskan. Nskah tersebut harus memenuhi kreteria yang diinginkan serta sesuai dengan kondisi yang ada di lapangan.

1.2 Membuat Naskah Sendiri

Membuat naskah lakon sendiri tidak menguntungkan karena akan memperpanjang proses pengerjaan. Akan tetapi berkenaan dengan sumber daya yang dimiliki, membuat naskah sendiri dapat menjadi pilihan yang tepat. Untuk itu, sutradara harus mampu membuat naskah yang sesuai dengan kualitas sumber daya yang ada. Naskah semacam ini

bersifat situasional, tetapi semua orang yang terlibat menjadi senang karena dapat mengerjakannya sesuai dengan kemampuan yang dimiliki. Beberapa langkah di bawah ini dapat dijadikan acuan untuk menulis naskah lakon.

􀁸 Menentukan tema. Tema adalah gagasan dasar cerita atau pesan yang akan disampaikan oleh pengarang kepada penonton. Tema, akan menuntun laku cerita dari awal sampai akhir.

􀁸 Menentukan persoalan. Persoalan atau konflik adalah inti dari cerita teater. Tidak ada cerita teater tanpa konflik. Oleh karena itu pangkal persoalan atau titik awal konflik perlu dibuat dan disesuaikan dengan tema yang dikehendaki.

􀁸 Membuat sinopsis (ringkasan cerita). Gambaran cerita secara global dari awal sampai akhir hendaknya dituliskan. Sinopsis digunakan pemandu proses penulisan naskah sehingga alur dan persoalan tidak melebar. Dengan adanya sinopsis maka penulisan lakon menjadi terarah dan tidak mengada-ada.

􀁸 Menentukan kerangka cerita. Kerangka cerita akan membingkai jalannya cerita dari awal sampai akhir. Kerangka ini membagi jalannya cerita mulai dari pemaparan, konflik, klimaks sampai penyelesaian. Dengan membuat kerangka cerita maka penulis akan memiliki batasan yang jelas sehingga cerita tidak berteletele.

􀁸 Menentukan protagonis. Tokoh protagonis adalah tokoh yang membawa laku keseluruhan cerita. Dengan menentukan tokoh protagonis secara mendetil, maka tokoh lainnya mudah ditemukan. Misalnya, dalam persoalan tentang kelicikan, maka tokoh protagonis dapat diwujudkan sebagi orang yang rajin, semangat dalam bekerja, senang membantu orang lain, berkecukupan, dermawan, serta jujur. Semakin detil sifat atau karakter protagonis, maka semakin jelas pula karakter tokoh antagonis. Dengan menulis lawan dari sifat protagonis maka karakter antagonis dengan sendirinya terbentuk. Jika tokoh protagonis dan antagonis sudah ditemukan, maka tokoh lain baik

yang berada di pihak protagonis atau antagonis akan mudah diciptakan.

􀁸 Menentukan cara penyelesaian. Mengakhiri sebuah persoalan yang dimunculkan tidaklah mudah. Dalam beberapa lakon ada cerita yang diakhiri dengan baik tetapi ada yang diakhiri secara Tergesa gesa, bahkan ada yang bingung mengakhirinya. Akhir cerita yang mengesankan selalu akan dinanti oleh penonton. Oleh karena itu tentukan akhir cerita dengan baik, logis, dan tidak tergesa-gesa.

􀁸 Menulis. Setelah semua hal disiapkan maka proses berikutnya adalah menulis. Mencari dan mengembangkan gagasan memang tidak mudah, tetapi lebih tidak mudah lagi memindahkan gagasan dalam bentuk tulisan. Oleh karena itu, gunakan dan manfaatkan waktu sebaik mungkin.

  1. Analisis Lakon

Menganalisis lakon adalah salah satu tugas utama sutradara Lakon yang telah ditentukan harus segera dipelajari sehingga gambaran  lengkap cerita didapatkan. Dengan analisis yang baik, sutradara akan lebih mudah menerjemahkan kehendak pengarang dalam pertunjukan.

2.1 Analisis Dasar

Analisis dasar adalah telaah unsur-unsur pokok yang membentuk lakon. Dalam proses analisis ini, sutradara memepelajari seluruh isi lakon dan menangkap gambaran lengkap lakon seperti apa yang tertulis. Jadi, dalam tahap ini sutradara hanya membaca kehendak pengarang melalui lakonnya. Unsur-unsur pokok yang harus dianalisis oleh sutradara adalah senagai berikut.

􀁸 Pesan Lakon. Merupakan bahan komunikasi utama yang hendak disampaikan kepada penonton. Berhasil atau tidaknya sebuah pertunjukan teater diukur dari sampai tidaknya pesan lakon kepada penonton. Oleh karena itu, sutradara wajib menemukan pesan utama dari lakon yang telah ditentukan. Apa yang hendak disampaikan oleh pengarang melalui naskah lakon disebut pesan.

􀁸 Konflik dan Penyelesaian. Penting mengetahui dasar persoalan (konflik) dalam sebuah lakon karena hal tersebut

akan membawa laku aksi para tokohnya. Di bagian mana konflik itu muncul dan bagaimana aksi dan reaksi para

tokohnya, pada bagian mana konflik itu memuncak, dan pada akhirnya bagaimana konflik itu diselesaikan. Semua ini akan memberi sudut pandang bagi sutradara dalam melihat, menilai, dan memahami konflik lakon. Selain itu sudut

pandang pengarang dalam menyelesaikan konflik dapat menegaskan pesan yang hendak disampaikan.

􀁸 Karakter Tokoh. Analisis karakter tokoh sangat penting dan harus dilakukan secara mendetil agar sutradara mendapatkan gambaran watak sejelas-jelasnya.

􀁸 Latar Cerita. Gambaran tempat kejadian, peristiwa, dan waktu kejadian harus diungkapkan dengan jelas karena hal ini berkaitan dengan tata artistik. Untuk mewujudkan keadaan peristiwa seperti dikehendaki lakon di atas panggung maka informasi yang jelas mengenai latar cerita harus didapatkan.

2.2 Interpretasi

Setelah menganalisis lakon dan mendapatkan informasi lengkap mengenai lakon, maka sutradara perlu melakukan tafsir atau interpretasi. Berdasarkan hasil analisis, sutradara memberi sentuhan dan atau penyesuaian artistik terhadap lakon yang akan dipentaskan. Proses ini bisa disebut sebagai proses asimilasi (perpaduan) antara gagasan sutradara dan pengarang.  Proses interpretasi biasanya menyangkut unsur latar, pesan, dan penokohan.

􀁸 Latar. Adaptasi terhadap tempat kejadian peristiwa sering dilakukan oleh sutradara. Secara teknis hal ini berkaitan

dengan sumber daya yang dimiliki. Misalnya, dalam lakon mengehendaki tempat kejadian di sebuah apartemen yang mewah, tetapi karena ketersediaan sumber daya yang kurang memadahi maka bentuk penampilan apartemen mewah disesuaikan. Secara artistik, sutradara dapat menafsirkan tempat kejadian secara simbolis. Misalnya, apartemen mewah disimbolkan sebagai pusat kekuasaan maka tata panggungnya disesuaikan dengan simbolisasi tersebut.

􀁸 Pesan. Hal yang paling menarik mengenai penyampaian pesan kepada penonton adalah caranya. Cara menyampaikan pesan antara sutradara satu dengan yang lain bisa berbeda meskipun lakon yang dipentaskan sama. Cara menyampaikan pesan ini menjadi titik tafsir lakon yang penting karena pesan inilah inti dari keseluruhan lakon. Untuk menekankan pesan yang dimaksud ada sutradara yang memberi penonjolan pada tata artistik, misalnya warna-warna yang digunakan di atas panggung. Ada juga sutradara yang menonjolkan laku aksi aktor di atas pentas sehingga adegan dibuat dan dikerjakan secara detil.

􀁸 Penokohan. Tafsir ulang terhadap tokoh lakon paling sering dilakukan. Hal ini biasanya berkaitan dengan isu atau topic yang sedang hangat terjadi di masyarakat. Tafsir ulang tokoh tidak hanya sekedar mengubah nama dan menyesuaikan bentuk penampilan fisik, tetapi juga mental, emosi, dan keseluruhan watak tokoh. Misalnya, sebuah lakon yang tokohtokohnya memiliki latar belakang budaya Eropa hendak diadaptasi ke dalam budaya Indonesia. Banyak hal yang harus dilakukan selain mengganti nama dan penampilan fisik, yaitu cara berbicara, gaya berjalan, tata krama, pandangan hidup, takaran emosi dan cara berpikir. Semuanya memliki keterkaitan.

 

2.3 Konsep Pementasan

Hasil akhir dari analisis naskah adalah konsep pementasan. Dalam konsep ini sutradara menjelaskan secara lengkap mengenai cara menyampaikan pesan yang berkaitah dengan pendekatan gaya pementasan dan pendekatan pemeranan serta memberikan gambaran global tata artistik.

􀁸 Pendekatan gaya pementasan. Seniman teater dunia telah banyak berusaha melahirkan gaya pementasan. Dewasa ini hampir tidak bisa ditemukan gaya pementasan murni yang dihasilkan seorang sutradara atau pemikir teater. Setiap kelahiran gaya baru memiliki keterkaitan atau perlawanan terhadap gaya tertentu (baca bagian sejarah teater). Oleh karena itu, hal yang paling bisa adalah mendekatkan gaya pementasan dengan gaya tertentu yang sudah ada.

􀁸 Pendekatan pemeranan. Setelah menetapkan pendekatan gaya, maka metode pemeranan yang dilakukan perlu

dituliskan. Hal ini sangat berguna bagi aktor. Metode acting berkaitan dengan pencapaian aktor (standar) sesuai dengan pendekatan gaya pementasannya.

􀁸 Gambaran tata artistik. Secara umum, sutradara harus menuliskan gambaran (pandangan) tata artistiknya. Meski

tidak secara mendetil, tetapi gambaran tata artisitk berguna bagi para desainer untuk mewujudkannya dalam desain. Jika sutradara mampu, maka ia bisa memberikan gambaran tata artistik melalui sketsa. Jika tidak, maka ia cukup

menuliskannya. Di bawah ini contoh sketsa tata artistik.

 

 

 

  1. Memilih Pemain

Menentukan pemain yang tepat tidaklah mudah. Dalam sebuah grup atau sanggar, sutradara sudah mengetahui karakter pemainpemainnya (anggota). Akan tetapi, dalam sebuah grup teater sekolah yang pemainnya selalu berganti atau kelompok teater kecil yang membutuhkan banyak pemain lain sutradara harus jeli memilih sesuai

kualifikasi yang dinginkan. Grup teater tradisional biasanya memilih pemain sesuai dengan penampilan fisik dengan ciri fisik tokoh lakon, misalnya dalam wayang orang atau ketoprak. Akan tetapi, dalam teater modern, memilih pemain biasanya berdasar kecapakan pemain tersebut.

3.1 Fisik

Penampilan fisik seorang pemain dapat dijadikan dasar menentukan peran. Biasanya, dalam lakon yang gambaran tokohnya sudah melekat di masyarakat, misalnya tokoh-tokoh dalam lakon pewayangan, penentuan pemain berdasar ciri fisik ini menjadi acuan utama.

􀁸 Ciri Wajah. Berkaitan langsung dengan penampilan mimic aktor. Meskipun kekurangan wajah bisa ditutupi dengan tata rias, tetapi ciri wajah pemain harus diusahakan semirip mungkin dengan ciri wajah tokoh dalam lakon. Hal ini

dianggap dapat mampu melahirkan ekspresi wajah yang natural. Misalnya, dalam cerita Kabayan, maka pemain harus memiliki ciri wajah yang tampak tolol.

􀁸 Ukuran Tubuh. Dalam kasus tertentu, ukuran tubuh merupakan harga mati bagi sebuah peran. Misalnya, dalam

wayang wong, tokoh Bagong memiliki ukuran tubuh tambun (gemuk), maka pemain yang dipilih pun harus memiliki tubuh gemuk. Tidak masuk akal jika Bagong tampil dengan tubuh kurus.

􀁸 Tinggi Tubuh. Hal ini juga sama dengan ukuran tubuh. Tokoh Werkudara (Bima) harus diperankan oleh orang yang bertubuh tinggi besar. Sutradara akan diprotes oleh penonton jika menampilkan Bima bertubuh kurus dan pendek, karena tidak sesuai dengan karakter dan akan menyalahi laku lakon secara keseluruhan.

􀁸 Ciri Tertentu. Ciri fisik dapat pula dijadikan acuan untuk menentukan pemain. Misalnya, dalam ketoprak, seorang yang tinggi tapi bungkuk dianggap tepat memainkan peran pendeta. Seorang yang memiliki kumis, janggut, dan brewok tebal cocok diberi peran sebagai warok atau jagoan.

3.2 Kecakapan

Menentukan pemain berdasar kecapakan biasanya dilakukan melalui audisi. Meskipun dalam khasanah teater modern, sutradara dapat menilai kecakapan pemain melalui portofolio tetapi proses audisi tetap penting untuk menilai kecakapan aktor secara langsung.

􀁸 Tubuh. Kesiapan tubuh seorang pemain merupakan factor utama. Tidak ada gunanya seorang aktor bermain dengan baik jika fisiknya lemah.

􀁸 Wicara. Kemampuan dasar wicara merupakan syarat utama yang lain. Dalam teater yang menggunakan ekspresi bahasa verbal kejelasan ucapan adalah kunci ketersampaian pesan dialog.

􀁸 Penghayatan. Menghayati sebuah peran berarti mampu menerjemahkan laku aksi karakter peran dalam bahasa verbal dan ekspresi tubuh secara bersamaan.

􀁸 Kecakapan lain. Kemampuan lain selain bermain peran terkadang dibutuhkan.

  1. Menentukan Bentuk dan Gaya Pementasan

Bentuk dan gaya pementasan membingkai keseluruhan penampilan pementasan. Penting bagi sutradara untuk menentukan dengan tepat bentuk dan gaya pementasan. Bentuk dan gaya yang dipilih secara serampangan akan mempengaruhi kualitas penampilan.

4.1 Menurut Penuturan Cerita

Ada dua jenis pertunjukan teater menurut penuturan ceritanya, yaitu berdasar naskah lakon dan improvisasi. Teater tradisional biasanya memilih imporivisasi karena semua pemain telah memahami dengan baik cerita yang akan dilakonkan dan karakter tokoh yang akan diperankan. Sebaliknya, teater modern menggunakan naskah lakon sebagai sumber penuturan. Meskipun beberapa kelompok teater modern tertentu memperbolehkan improvisasi (biasanya lakon komedi situasi) tetapi sumber utama dialognya diambil dari naskah lakon.

4.1.1 Berdasar Naskah Lakon

4.1.2 Improvisasi

  1. Blocking

Sutradara diwajibkan memahami cara mengatur pemain di atas pentas. Bukan hanya akting tetapi juga blocking. Secara mendasar blocking adalah gerakan fisik atau proses penataan (pembentukan) sikap tubuh seluruh aktor di atas panggung. Blocking dapat diartikan sebagai aturan berpindah tempat dari titik (area) satu ke titik (area) yang lainnya bagi aktor di atas panggung. Untuk mendapatkan hasil yang baik, maka perlu diperhatikan agar blocking yang dibuat tidak terlalu rumit, sehingga lalulintas aktor di atas panggung berjalan dengan lancar. Jika blocking dibuat terlalu rumit, maka perpindahan dari satu aksi menuju aksi yang lain menjadi kabur. Yang terpenting dalam hal ini adalah fokus atau penekanan bagian yang akan ditampilkan. Fungsi blocking secara mendasar adalah sebagai berikut.

􀁸 Menerjemahkan naskah lakon ke dalam sikap tubuh actor sehingga penonton dapat melihat dan mengerti.

􀁸 Memberikan pondasi yang praktis bagi aktor untuk membangun karakter dalam pertunjukan.

􀁸 Menciptakan lukisan panggung yang baik. Dengan blocking yang tepat, kalimat yang diucapkan oleh aktor menjadi lebih mudah dipahami oleh penonton. Di samping itu, blocking dapat mempertegas isi kalimat tersebut. Jika blocking dikerjakan dengan baik, maka karakter tokoh yang dimainkan oleh para aktor akan tampak lebih

hidup.

5.1 Pembagian Area Panggung

 

Gb. 1 Pembagian lima belas area panggung

Akn = Atas Kanan, AknT = Atas Kanan Tengah, AT = Atas Tengah, AkrT = Atas Kiri

Tengah, Akr = Atas Kiri, Kn = Kanan, TKn = Tengah Kanan, T = Tengah, TKr = Tengah

Kiri, Kr = Kiri, BKn = Bawah Kanan, BKnT = Bawah Kanan Tengah, BT = Bawah

Tengah, BKrT = Bawah Kiri Tengah, BKr = Bawah Kiri

5.2 Komposisi

Komposisi dapat diartikan sebagai pengaturan atau penyusunan pemain di atas pentas. Sekilas komposisi mirip dengan blocking. Bedanya, blocking memiliki arti yang lebih luas karena setiap gerak, arah laku, perpindahan pemain serta perubahan posisi pemain dapat disebut blocking. Sedangkan komposisi, lebih mengatur posisi, pose, dan tinggirendah pemain dalam keadaan diam (statis). Simetris, Komposisi simetris adalah komposisi yang membagi pemain dalam dua bagian dan menempatkan bagian-bagian tersebut dalam posisi yang benar-benar sama dan seimbang.  Asimetris Komposisi asimetris tidak membagi pemain dalam dua bagian yang sama persis, tetapi membagi pemain dalam dua bagian atau lebih dengan tujuan memberi penonjolan (penekanan) bagian tertentu. Di

bawah ini contoh komposisi asimetris. Keseimbangan Dalam menata komposisi pemain di atas pentas hal yang paling penting untuk diperhatikan adalah keseimbangan. Keseimbangan adalah pengaturan atau pengelompokan aktor di atas pentas yang ditata sedemikian rupa sehingga tidak menghasilkan ketimpangan. Hal ini diperlukan untuk memenuhi ruang dan menghindari komposisi aktor yang berat sebelah.  Fokus Dalam mengatur blocking, hal yang paling utama untuk diperhatikan sutradara adalah perhatian penonton. Setiap aktivitas, karakter, perubahan ekspresi dan aksi di atas pentas harus dapat ditangkap mata penonton dengan jelas.

5.3.1 Prinsip Dasar

Pada dasarnya fokus adalah membuat pemain menjadi terlihat

jelas oleh mata penonton. Oleh karena itu, prinsip-prinsip dasar di bawah

ini dapat digunakan sebagai petunjuk dalam menempatkan posisi dan

mengatur pose pemain.

􀁸 Kurangilah menempatkan pemain dalam posisi menghadap

lurus ke arah penonton atau menyamping penuh. Usahakan

pemain menghadap diagonal (kurang lebih 45 derajat) ke arah

penonton. Menghadap lurus ke arah penonton akan

memberikan efek datar dan kurang memberikan dimensi

kepada pemain, sedangkan menyamping penuh akan

menyembunyikan bagian tubuh yang lain. Dengan menghadap

secara diagonal, maka dimensi dan keutuhan tubuh pemain

126

akan dilihat dengan jelas oleh mata penonton. Gambar di

bawah memperlihatkan pemain dengan pose menyamping,

diagonal, dan ke depan. Jika diperhatikan dengan seksama,

pemain dengan pose diagonal lebih memiliki dimensi

dibandingkan pemain dengan pose yang lain.

Gb.57 Pose arah hadap pemain

􀁸 Jika pemain hendak melangkah, maka awali dan akhiri

langkah tersebut dengan kaki panggung atas (yang jauh dari

mata penonton). Jika melangkah dengan kaki panggung

bawah (yang dekat dari mata penonton), maka kaki yang jauh

akan tertutup dan wajah pemain secara otomatis akan

menjauh dari mata penonton. Hal ini menjadikan gerak pemain

kurang terlihat dengan jelas. Gambar di bawah

memperlihatkan pemain yang melangkah menggunakan kaki

panggung bawah dan kaki panggung atas. Pemain yang

melangkah dengan kaki panggung atas tampak lebih luwes

dan memberi keluasan pandangan bagi penonton

127

Gb.58 Gerak langkah pemain

Gb.59 Pose menunjuk

128

􀁸 Gunakan lengan atau tangan panggung atas (yang jauh dari

mata penonton) untuk menunjuk ke arah panggung atas dan

gunakan lengan atau tangan panggung bawah (yang dekat

dengan mata penonton) untuk menunjuk ke panggung bawah.

Jika yang dilakukan sebaliknya, maka gerakan lengan dan

tangan akan menutupi bagian tubuh lain. Gambar di atas

memperlihatkan pemain yang menunjuk dengan lengan

panggung atas nampak lebih serasi dan memberi keluasan

pandangan.

􀁸 Jangan pernah memegang benda atau piranti tangan di depan

wajah ketika sedang berbicara, karena hal ini akan menutupi

suara dan pandangan penonton. Gambar di bawah

memperlihatkan betapa mengganggunya memegang piranti

(telepon) dengan menutupi muka. Jika tangan yang digunakan

adalah tangan yang tidak menganggu pandangan penonton,

maka gerak laku aktor dalam menggunakan telepon akan

kelihatan. Hal ini mempertegas laku aksi yang sedang

dikerjakan.

Gb.60 Cara memegang piranti

􀁸 Usahakan agar para aktor saling menatap (berkontak mata)

pada saat mengawali dan mengakhiri dialog (percakapan).

Selebihnya, usahakan untuk berbicara kepada penonton atau

kepada aktor lain yang berada di atas panggung. Membagi

arah pandangan ini sangat penting untuk menegaskan dan

memberi kejelasan ekspresi karakter kepada penonton.

129

Perhatikan gambar aktor yang melakukan kontak mata ketika

berbicara di bawah ini.

Gb.61 Aktor saling kontak mata

5.3.2 Teknik

Marsh Cassady (1997) menyebutkan beberapa teknik untuk

menciptakan fokus pemain di atas panggung, di antaranya dengan

memanfaatkan area panggung, memanfaatkan tata panggung,

trianggulasi, individu dan kelompok, serta kelompok besar.

5.3.2.1 Memanfaatkan Area Panggung

Dalam tata panggung, suatu area memiliki kekuatan berbeda

dibanding area yang lain. Kekuatan dalam makna blocking di sini adalah,

area yang lebih mudah mendapat perhatian mata penonton. Semua area

panggung kelihatan sama jika dalam keadaan kosong, tetapi setelah para

aktor hadir di dalamnya, maka segera perhatian penonton akan tertuju ke

area tertentu yang lebih kuat dibanding area lain. Secara umum, area

tengah, area terdekat dengan penonton, serta jarak area, dapat

dimanfaatkan untuk menciptakan fokus.

􀁸 Area tengah, secara natural lebih kuat jika dibandingkan

dengan area di sisi kiri atau kanan. Pemain yang berada di

tengah secara otomatis menjadi pusat perhatian penonton

sementara pemain yang berada di sisi kanan dan kirinya seolaholah

hadir sebagai penyeimbang. Gambar 62 menunjukkan

bahwa pemain yang berada di tengah menjadi pusat perhatian.

Gambar 63 juga menunjukkan hal yang sama, meskipun jumlah

pemain di sisi kanan dan kiri lebih banyak tetapi tetap saja

pemain yang berada di tengah menjadi pusat perhatian.

130

Gb.62 Pemain yang berada di tengah menjadi fokus

Gb.63 Pemain yang berada di tengah tetap menjadi fokus meskipun jumlah

pemain di sisi kiri dan kanan lebih banyak

􀁸 Area terdekat dengan penonton lebih memiliki kekuatan

dibanding dengan area yang jauh dari mata penonton. Gambar

64 di bawah ini memperlihatkan bahwa secara otomatis

perhatian penonton akan mengarah pada pemain yang berada

lebih dekat daripada yang berdiri di area yang jauh. Mata

penonton secara otomatis akan menangkap objek yang lebih

dekat dan jelas. Hal ini memberikan jawaban mengapa dalam

pertunjukan teater tradisional pemain yang berbicara dan

hendak melontarkan pernyataan penting selalu mendekat ke

arah penonton. Mereka ingin menjadi pusat perhatian.

131

Gb.64 Pemain yang berada lebih dekat dengan penonton menjadi fokus

perhatian

􀁸 Jarak area satu dengan yang lain jika dimanfaatkan dengan

baik dapat menciptakan fokus. Dengan analogi yang lebih

terang akan lebih mudah terlihat, maka jarak antararea dapat

digunakan untuk memberi penonjolan pada pemain tertentu.

Dalam gambar 65 di bawah diperlihatkan bahwa seorang

pemain yang menjaga jarak dari sekelompok pemain akan lebih

mudah dan enak dilihat.

Gb.65 Pemain yang mengambil jarak dari sekelompok pemain akan menjadi

fokus

132

5.3.2.2 Memanfaatkan Tata Panggung

Tata panggung, sesederhana apapun dapat dimanfaatkan untuk

menciptakan fokus. Dengan sedikit kejelian, tata dekorasi pentas

menghasilkan ruang yang dapat dimaknai secara khusus untuk

kepentingan fokus pemain.

􀁸 Dengan memanfaatkan posisi tinggi rendah pemain menurut

tatanan set dekor yang ada, fokus dapat diciptakan. Posisi

pemain yang berdiri di ketinggian biasanya lebih kuat jika

dibanding dengan pemain yang ada di bawah. Tetapi jika ada

dua pemain yang sama tingginya, maka pemain yang berada di

bawah justru akan menjadi fokus karena kedudukan tinggi dua

pemain akan saling menghapuskan kekuatan satu sama lain.

Gb.66 Pemain yang lebih tinggi dari pemain lain menjadi fokus

Gb.67 Pemain yang berada pada level tinggi tetap menjadi fokus meskipun

pemain lain mengambil jarak

133

Dalam gambar 66 pemain yang berdiri paling tinggi di antara

sekumpulan pemain mencuri perhatian dan menjadi fokus.

Meskipun posisi pemain disebar tetap saja pemain yang berdiri

paling tinggi menjadi pusat perhatian (Gb.67). Sementara dalam

gambar 68, pemain yang berdiri paling rendah justru menjadi

pusat perhatian karena pemain yang berdiri tinggi di kanan dan

kiri justru saling menghapuskan fokus.

Gb.68 Pemain yang berdiri di tengah menjadi fokus

􀁸 Tata dekorasi pentas sering menggunakan bingkai dalam wujud

jendela, pintu atau bingkai yang lain. Selain sebagai penguat

artistik pementasan, bingkai dapat dimanfaatkan untuk

menciptakan fokus.

Gb.69 Fokus dengan memanfaatkan bingkai

134

Gb.70 Pemain yang berada di tengah bingkai menjadi fokus

Pemain yang berada di dalam bingkai lebih memiliki kekuatan

dibanding dengan yang berada di luar bingkai. Dalam dua gambar

di atas (Gb.69 dan Gb.70) diperlihatkan bahwa posisi pemain

yang beradar di dalam bingkai lebih menarik perhatian dibanding

yang lainnya.

5.3.2.3 Trianggulasi

Untuk menciptakan fokus yang mudah dan natural adalah

menempatkan pemain dalam posisi segitiga. Setiap pemain akan mudah

terlihat oleh penonton dan mereka dapat melihat satu sama lain sehingga

perubahan gerak dan karakter akan lebih cepat ditangkap. Selain itu

posisi segitiga memudahkan perpindahan pemain dari titik satu ke titik

yang lain tanpa menghilangkan fokus. Penempatan pemain dengan

berdasar pada bentuk segitiga ini disebut trianggulasi. Banyak kreasi

segitiga yang bisa diwujudkan baik dengan jumlah pemain sedikit

ataupun banyak. Gambar di bawah ini (Gb.71, 72 dan Gb. 73)

memperlihatkan variasi fokus trianggulasi dengan jumlah pemain minimal

3 orang.

135

Gb.71 Variasi triangulasi 1

Gb.72 Variasi trianggulasi 2

Gb.73 Variasi trianggulasi 3

136

Dari gambar di atas dapat diketahui bahwa pergeseran posisi satu

pemain dan pemain yang lain menghasilkan bocking yang tidak saling

menutupi. Semua dapat ditangkap dengan jelas oleh penonton. Pada

posisi ini fokus bisa berganti-ganti tergantung dari arah gerak dan laku

aksi yang diperagakan oleh pemain di atas pentas.

5.3.2.4 Individu dan Kelompok

Fokus juga dapat diciptakan dengan memisahkan satu orang

pemain dari sekelompok pemain yang ada. Penonton akan lebih tertarik

untuk melihat satu orang daripada sejumlah orang dalam sebuah

kelompok yang biasanya memiliki gestur, pose, dan aktivitas yang sama.

Gambar 74 dan 75 memperlihatkan penataan individu yang berjarak

dengan kelompok.

Gb.74 Fokus individu dari kelompok 1

Gb.75 Fokus individu dari kelompok 2

137

Gb.76 Fokus individu dari kelompok yang membentuk komposisi garis lurus

Gambar 76 memperlihatkan pemisahan individu dan kelompok,

dimana kelompok membentuk garis lurus. Sedangkan dalam gambar 77

kelompok membentuk setengah lingkaran sehingga energi dan perhatian

yang diberikan kepada individu menjadi lebih besar.

Gb.77 Fokus individu dari kelompok yang membentuk komposisi setengah

lingkaran

Selain memisahkan individu dari sekelompok pemain, fokus antara

individu dan kelompok dapat diciptakan dengan membedakan posisi.

138

Seorang pemain yang posisinya berbeda dari sekelompok pemain secara

otomatis akan lebih menarik perhatian penonton. Seseorang yang

jongkok di antara beberapa orang yang berdiri pasti memliki daya tarik

yang lebih kuat untuk dilihat, demikian juga sebaliknya.

Gb.78 Fokus dengan membedakan pose dan level pemain 1

Gb.79 Fokus dengan membedakan pose dan level pemain 2

Gambar 78 dan 79 memperlihatkan bahwa perhatian penonton akan

terarah pada pemaian yang berbeda di antara yang lain. Pembedaan

pose dan level ini tentu saja harus diikuti pembedaan laku aksi dalam

lakon. Misalnya, pemain yang mengambil pose berbeda adalah pimpinan

kelompok sehingga ia memiliki peran yang lebih besar daripada yang

lainnya.

139

5.3.2.5 Kelompok Besar

Menempatkan pemain dalam kelompok besar membutuhkan

teknik tersendiri karena dalam sebuah blocking kelompok tidak ada

individu yang lebih menonjol dari yang lain. Artinya, fokus atau perhatian

penonton ditujukan kepada sekelompok pemain. Untuk itu ada empat

teknik dasar yang bisa diterapkan, yaitu garis, lingkaran, setengah

lingkaran, dan segitiga.

Gb.80 Teknik garis

Penempatan pemain dengan teknik garis seperti gambar di atas

(Gb. 80) menguntungkan pemain, karena semua berada dalam posisi

sejajar sehingga tidak ada pemain yang lebih mononjol. Teknik ini dapat

diterapkan dengan membentuk satu atau lebih dari satu garis dengan

kombinasi tinggi rendah pemain. Dalam adegan chorus atau paduan

suara, penempatan kelompok dengan teknik garis sering digunakan.

Penempatan pemain dengan teknik lingkaran seperti gambar 81

sangat tidak menguntungkan karena sebagin pemain yang berdiri di

belakang tidak dapat dilihat oleh penonton. Meski demikian, teknik ini

seringkali digunakan dengan mengkombinasikan gerak kelompok.

Artinya, jika semua pemain dalam keadaan diam dalam waktu yang lama,

teknik lingkaran kurang menguntungkan tetapi jika semua pemain

bergerak bersama sehingga posisi antarpemain saling berpindah maka

teknik ini memiliki kekuatan fokus yang besar.

140

Gb.81 Teknik lingkaran 1

Gb. 82 Teknik lingkaran 2

Dalam bentuk lingkaran posisi pemain dapat dimodifikasi seperti

gambar 82. Pemain yang berada di depan mengambil posisi lebih rendah

dari pemain yang ada di belakang sehingga semua pemain dapat terlihat.

Hal ini menguntungkan karena posisi pemain dapat bertahan lama

meskipun dalam kondisi statis.

141

Bentuk setengah lingkaran, memliki keuntungan seperti teknik

garis (Gb. 83). Semua pemain terlihat. Tetapi bentuk ini secara

dimensional lebih menguntungkan tetapi untuk ruang pentas yang kecil

kurang menguntungkan. Bentuk setengah lingkaran membutuhkan

tempat yang lebih luas untuk memberi ruang kosong di tengah. Posisi ini

sering juga digunakan untuk chorus.

Gb.83 Teknik setengah lingkaran

Gb.84 Teknik segitiga

142

Penempatan kelompok pemain dengan teknik segitiga lebih

memiliki kemungkinan kreativitas. Dengan mengkombinasikan bentuk

segitiga masing-masing kelompok pemain dapat ditempatkan secara

proporsional sehingga tidak saling menutupi. Seperti dalam gambar 84,

semua pemain dapat dilihat oleh penonton sehingga penonjolan pemain

sangat tergantung dari aksi dan aktifitas peran yang dimainkan.

5.4 Mobilitas Pemain

Selain mengatur dan menempatkan posisi pemain di atas pentas,

blocking juga mengatur mobilitas atau perpindahan pemain dari titik satu

ke titik yang lain. Jika perpindahan para pemain tidak diatur dengan baik

maka lalulintas pemain akan menjadi semrawut sehingga fokus

pertunjukan menjadi kabur yang akibatnya makna lakon tidak sampai.

Untuk menghindari hal tersebut perlu diatur mobilitas pemain dengan

pertimbangan peristiwa, fokus, dinamika lakon, dan pengaturan arah

gerak.

􀁸 Peristiwa memberikan gambaran watak kejadian yang ada di

atas panggung. Watak kejadian ini bisa digunakan sebagai

acuan untuk mengatur mobilitas pemain. Misalnya, dalam

peristiwa duka, perpindahan pemain dari titik satu ke titik

dilakukan dengan tenang. Pergerakan antarpemain dibatasi.

Sebaliknya dalam peristiwa kekacauan, perpindahan para

pemain dapat dilangsungkan dengan cepat.

􀁸 Fokus yang telah ditetapkan pada pemain tertentu dalam

situasi tertentu harus didukung oleh mobilitas pemain lainnya.

Artinya, gerak, posisi, dan ekspresi pemain lain harus

menguatkan gerak, posisi, dan ekspresi pemain yang menjadi

fokus. Jika intensitas gerak semua pemain sama, maka fokus

tidak akan tercipta dan makna adegan yang dimaksudkan

melalui laku aksi pemain yang menjadi fokus menjadi kabur.

Hal ini mempengaruhi dinamika lakon secara keseluruhan.

􀁸 Dinamika lakon mempengaruhi pergerakan pemain di atas

pentas. Perubahan situasi dalam jalinan peristiwa lakon harus

dibarengi dengan perubahan laku aksi setiap pemain yang

terlibat di dalamnya. Oleh karena itu, mobilitas pemain perlu

diatur dan disesuaikan dengan dinamika laku lakon di atas

pentas.

􀁸 Pengaturan arah gerak ditetapkan untuk mengatur pergerakan

dan perpindahan pemain secara teknis. Dengan mengatur

arah gerak setiap pemain, laku aksi menjadi kelihatan kaku

dan mekanis tetapi perpindahan pemain menjadi teratur

sehingga setiap laku aksi dapat ditangkap oleh mata

penonton.

Pengaturan mobilitas pemain seperti tersebut di atas merupakan hal

penting yang harus dipahami oleh sutradara. Tidak ada artinya seorang

143

pemain bermain dengan sangat baik jika pola gerak dan perpindahan

pemain lain tidak mendukung. Dalam teater, semua pemain, semua

peran memegang kedudukan yang sama karena saling mendukung untuk

menciptakan harmoni lakon. Oleh karena itu, mobilitas semua pemain

yang terlibat dalam pertunjukan harus diatur dengan baik sehingga

makna lakon yang hendak disampaikan dapat diterima dengan baik oleh

penonton dan pertunjukan berjalan menarik.

  1. Latihan-latihan

Sutradara membimbing para aktor selama proses latihan. Untuk

mendapatkan hasil terbaik sutradara harus mampu mengatur para aktor

mulai dari proses membaca naskah lakon hingga sampai materi pentas

benar-benar siap untuk ditampilkan. Kunci utama dari serangkaian latihan

adalah kerjasama antara sutradara dan aktor serta kerjasama antaraktor.

Sutradara perlu menetapkan target yang harus dicapai oleh aktor melalui

tahapan latihan yang dilakukan. Oleh karena itu, penjadwalan latihan

perlu dibuat.

Tabel.1 Perencanaan jadwal latihan

Dengan melaksanakan latihan sesuai jadwal maka aktor dituntut

kedisiplinan untuk memenuhi target capaian. Jadwal ini juga bisa

digunakan sebagai acuan kerja penata artistik sehingga ketika sesi

latihan teknik dilangsungkan pekerjaan mereka telah siap.

6.1 Membaca Teks

Tahap awal latihan teater adalah membaca. Sutradara

membacakan naskah lakon secara keseluruhan kepada aktor kemudian

menjelaskan maksud dari lakon tersebut. Pada sesi ini aktor boleh

bertanya kepada sutradara hingga semua menjadi jelas dan aktor

144

memahami maksud sutradara berkenaan dengan isi lakon. Setelah itu

para aktor membaca lakon secara bersama sesuai dengan karakter yang

akan diperankan.

Karakter tokoh yang ada dalam naskah lakon tidak tampak hidup

jika tidak dibaca dengan pemahaman. Yang dimaksud dengan

pemahaman di sini adalah “mengerti”. Langkah pertama dalam

pemahaman adalah menangkap “apa” maksud dari dialog karakter

tersebut. “Apa” merupakan kata kunci pertama dalam menghayati

karakter. Banyak aktor yang hanya mempelajari baris kalimatnya sendiri

dan secara instan mulai memutuskan, “Bagaimana saya harus

melakukan dialog ini, bagaimana saya harus mengatakannya?”. Tidak

seorangpun aktor dapat menjawab “bagaimana” sebelum tahu “apa”

maksud dari lakon tersebut.

Menjelaskan detil maksud lakon yang tertuang dalam dialog

karakter para tokohnya adalah tugas bersama aktor dan sutradara. Jika

aktor kesulitan memahami maksud dialog maka kewajiban sutradara

untuk menjelaskannya. Beberapa teknik membaca seperti di bawah ini

dapat dilakukan untuk mendapatkan maksud lakon secara detil;

􀁸 Membaca keseluruhan lakon dengan pelan dan cermat

􀁸 Membaca per suku kata dengan pelan dan teliti

􀁸 Membaca per kata dengan pelan dan teliti

􀁸 Membaca teks sebagai teks (tanpa mencoba mencari makna

kalimat) dengan pelan

􀁸 Membaca dengan memperhatikan tanda baca dengan pelan

dan teliti

􀁸 Mencari hubungan antara satu kata dengan kata lain, satu

kalimat dengan kalimat yang lain

􀁸 Membaca dengan pemahaman

􀁸 Menambah waktu khusus untuk membaca naskah secara

mandiri

6.2 Menghapal

Kerja menghapal dimulai sesegera mungkin setelah mendapatkan

naskah. Tidak perlu membayangkan blocking dalam menghapal teks.

Latihan baris-baris dialog yang ada dalam teks lakon bisa dilakukan

setiap hari. Semakin cepat dan tepat dalam menghapal maka proses

kerja berikutnya menjadi semakin mudah. Dalam satu proses latihan

sutradara berhak menetapkan target hapalan untuk para aktornya. Target

sutradara ini akan memacu para aktor untuk segera menghapal barisbaris

dialog yang menjadi tanggungjawabnya. Untuk memudahkan kerja

menghapal beberapa teknik di bawah ini dapat dilakukan:

􀁸 Membaca dialog secara keseluruhan dan diulang-ulang

􀁸 Membaca bagian per bagian secara berulang-ulang

145

􀁸 Membaca satu baris dialog kemudian langsung dihapalkan

setelahnya diikuti baris dialog selanjutnya

􀁸 Menemukan kata kunci atau kata yang mudah diingat antara

dialog satu dengan yang lain

􀁸 Menggunakan tape recorder untuk merekam pembacaan

dialog

6.3. Merancang Blocking

Lalu lintas perpindahan gerak pemain di atas pentas harus diatur

sedemikian rupa agar tidak terjadi kekacauan. Sutradara perlu menata

blocking pemain untuk memberikan kejelasan gerak, arah gerak, serta

penekanan-penekanan terhadap tokoh atau situasi tertentu. Rancangan

gambar blocking biasanya hanya melukiskan garis besar perpindahan

posisi pemain dari titik satu ke titik yang lain. Perpindahan ini akan

mempengaruhi posisi aktor yang lain. Gambar 85, 86, 87, dan 88

memperlihatkan bagaimana cara sutradara menggambarkan blocking

pemain.

Gb.85 Rancangan blocking 1

Gb.86 Rancangan blocking 2

146

Gb.87 Rancangan blocking 3

Gb.88 Rancangan blocking 4

6.4 Stop and Go

Stop and Go adalah proses latihan menghapal secara

keseluruhan atau per bagian. Di tengah proses, sutradara menghentikan

sebentar (stop) dan memberikan penjelasan atau arahan kemudian para

pemain mengulangi lagi adegan yang sama (go) sesuai arahan

sutradara. Teknik ini sangat baik dilakukan agar pemain tidak kehilangan

detil karakter yang diperankan (penghayatan peran). Sutradara dituntut

ketelitiannya dalam proses ini karena perubahan atau pembenahan yang

dilakukan akan mempengaruhi adegan berikutnya. Beberapa hal yang

bisa dibenahi dalam proses latihan stop and go:

􀁸 Penghayatan karakter baik melalui wicara ataupun ekspresi

􀁸 Blocking pemain bersesuaian dengan properti atau pemain

lain

􀁸 Aksi dan reaksi di antara pemain

􀁸 Teknik timming baik dalam aksi individu atau kelompok

􀁸 Keselarasan adegan

147

6.5 Top-tail

Proses latihan top-tail dilakukan untuk menghapal rancangan

blocking yang telah ditetapkan oleh sutradara. Selain itu juga digunakan

untuk mengingat kunci akhir satu dialog dan awal dialog berikutnya atau

yang biasa disebut cue (kyu). Para aktor mempraktekkan blocking yang

ditetapkan oleh sutradara dengan mengucapkan baris awal dialog (top)

sebagai tanda mula dan mengucapkan baris akhir dialog (tail) sebagai

tanda berubahnya blocking. Latihan ini dilakukan berulang-ulang hingga

para aktor memahami desain blocking yang telah ditentukan. Proses toptail

penting dilakukan terutama untuk menyesuaikan tempat permainan,

dari studio latihan ke panggung atau dari panggung satu ke panggung

lain. Perubahan ukuran tempat latihan atau panggung pementasan akan

mempengaruhi blocking. Oleh karena itu, setiap berada di tempat yang

baru perlu proses adaptasi dengan latihan top-tail.

6.6 Run-through

Run-through adalah latihan hapalan naskah lakon secara

keseluruhan. Para aktor berlatih memainkan peran dari awal sampai akhir

cerita tanpa menggunakan naskah (lepas naskah). Dalam run-through

sutradara tidak menghentikan proses latihan yang sedang dilakukan.

Arahan atau kritik diberikan setelah latihan berakhir. Run-through tahap

pertama dapat dilakukan per bagian atau per babak yang disebut sebagai

run-thorugh kasar. Tahap berikutnya dilakukan secara menyeluruh.

Dalam latihan ini yang dipentingkan adalah hapalan dialog dan blocking

yang disesuaikan dengan ekspresi dan emosi karakter peran. Hal-hal

yang perlu diperhatikan oleh sutradara dalam proses ini adalah.

􀁸 Ketepatan dialog

􀁸 Irama

􀁸 Penghayatan peran

􀁸 Hubungan antara karakter satu dengan yang lain

􀁸 Perpindahan adegan atau babak berkaitan dengan dinamika

lakon

􀁸 Tensi dramatik

􀁸 Blocking pemain

􀁸 Kerjasama antarpemain

􀁸 Ketersampaian pesan

6.7 Latihan Teknik

Latihan teknik merupakan proses pengenalan aktor dengan tata

panggung, busana, suara, cahaya dan piranti (property) lainnya. Latihan

teknik biasanya dilakukan pada hari-hari terakhir menjelang pertunjukan.

Hal ini dapat merusak keseluruhan rancangan pertunjukan dan membuat

kerja menjadi sia-sia. Para aktor yang sudah sekian lama berlatih peran

148

jika dibebani dengan hal-hal teknis menjelang pementasan akan

mempengaruhi karakter peran. Akibat yang paling fatal adalah karakter

yang telah lama dilatihkan justru tidak bisa ditemukan karena beban

teknis. Oleh karena itu, lakukan latihan teknik secara khusus paling tidak

seminggu sebelum pementasan dilakukan.

􀁸 Pertama adalah piranti tangan (hand props). Segala hal yang

disentuh atau digunakan oleh aktor harus segera mungkin

dilatihkan agar menjadi kebiasaan. Misalnya, seorang aktor

harus menggunakan tongkat untuk berjalan, maka segera

mungkin ia berlatih dengan tongkat tersebut agar biasa

berjalan dengan tongkat, sehingga perannya nampak wajar

dan tidak dibuat-buat. Hal ini berlaku untuk piranti tangan lain,

seperti pedang, belati, tas jinjing, pipa cangklong, dan lain

sebagainya.

􀁸 Kedua adalah tata panggung. Meskipun tidak komplet, tetapi

latihan dengan tata panggung atau set dekorasi perlu

dilakukan secara mendalam. Terutama dengan benda-benda

yang akan digunakan atau disentuh oleh aktor, misalnya kursi,

meja, pintu, vas bunga, lukisan dinding, dan lain sebagainya.

Jika dalam proses latihan benda-benda tersebut belum bisa

dihadirkan, maka bisa diganti dengan benda lain yang

menyerupai.

􀁸 Ketiga adalah tata busana. Latihan dengan busana ini sangat

bermanfaat bagi para aktor. Berlatih dengan tata busana

idealnya dilakukan lebih awal, agar aktor memiliki waktu yang

cukup untuk membiasakan diri dengan busana tersebut.

Semakin sering aktor mengenakan busana pentas, maka ia

akan merasa mengenakan pakaiannya sendiri. Hal ini sangat

mempengaruhi laku peran, karena busana dapat memberikan

kesan berbeda bagi pemakainya. Kesan yang diharapkan

muncul melalui tata busana akan tampak jika aktor telah

terbiasa mengenakannya.

􀁸 Keempat adalah tata lampu. Jika piranti tangan, tata

panggung, dan tata busana telah dipenuhi, maka berikutnya

adalah penyesuaian dengan tata lampu. Lampu memiliki

karakter khusus karena cahaya yang dihasilkan dapat

memberikan dimensi dan menambah hidup suasana. Oleh

karena itu, penataan cahaya tidak bisa dibarengkan dengan

latihan akting. Tata lampu menyesuaikan dengan warna set,

busana, segala piranti yang ada di panggung, dan suasana

yang dikehendai oleh sutradara. Setelah semuanya terpasang,

barulah latihan akting dengan tata lampu bisa dilaksanakan.

Dalam latihan ini, lampu menyesuaikan blocking dan fokus

yang dikehendaki. Untuk mencapai hasil maksimal, latihan

dengan tata lampu perlu dilakukan berulang-ulang.

149

􀁸 Kelima adalah tata rias. Tata rias harus menyesuaikan tata

lampu. Intensitas dan warna cahaya dapat mempengaruhi tata

rias. Oleh karena itu, latihan dengan tata rias dilakukan

setelah penataan lampu, karena mengubah atau

menyesuaikan tata rias lebih mudah daripada mengubah tata

lampu.

􀁸 Terakhir adalah tata suara. Biasanya, aktor tidak

menggunakan mikrofon. Mereka berbicara langung kepada

penonton. Tetapi dalam beberapa kasus tata suara untuk

pemain diperlukan, misalnya ada pemain yang menyanyi dan

menggunakan wireless mic di atas panggung, maka

pengaturan sound system perlu disesuaikan, demikian juga

dengan ilustrasi musik atau efek yang ingin dihasilkan melalui

sound system. Proses penataan sound sytem membutuhkan

waktu tersendiri dan tidak berkaitan langsung dengan latihan

akting.

Selain bersama dengan para aktor, akan lebih baik jika disediakan waktu

khusus bagi para teknisi atau unsur tata artistik untuk melakukan latihan

secara mandiri. Latihan ini merupakan latihan teknik dalam arti

sesungguhnya dimana para kru memasang, mengatur, dan

mengujicobakan piranti teknik sebelum benar-benar digunakan. Penataan

panggung dan lampu hendaknya mendapatkan waktu khusus karena

keduanya membutuhkan waktu penataan dan penyesuaian yang lebih

lama dibanding unsur tata artistik yang lain.

6.8 Dress Rehearsal

Setelah semua persyaratan untuk pementasan dipenuhi, maka

dress rehearsal atau latihan secara lengkap dan menyeluruh dapat

dilakukan. Alasan utama untuk menyelenggarakan dress rehearsal

adalah memberikan nuansa pementasan yang sesungguhnya kepada

para aktor dan seluruh kru pendukung teknik. Dengan demikian, semua

bisa mempelajari segala kekurangan dan mengetahui hal-hal yang perlu

disesuaikan dan diperbaiki.

Umumnya proses ini dilakukan dua atau bahkan tiga kali. Tahap

pertama dan yang kedua biasanya disebut dengan istilah gladi kotor.

Pada tahap ini, komentar, kritik, dan saran dapat diberikan baik dari

sutradara atau pengamat yang dihadirkan. Seluruh pemain dan kru masih

memiliki waktu untuk memperbaikinya. Akan tetapi, pada pelaksanaan

tahap akhir atau yang biasa disebut gladi bersih, pembenahan secara

teknis sudah tidak bisa lagi dikerjakan, melainkan hal-hal kecil yang

berkaitan dengan pemahaman serta semangat kebersamaan para

pemain dan kru bisa diperkuat.

Sutradara wajib memberikan catatan lisan atau tertulis kepada

seluruh pemain dan kru setelah melaksanakan dress rehearsal. Catatan

tersebut berfungsi sebagai:

150

􀁸 Bentuk dari dukungan dan edukasi. Nasehat atau semangat

yang diberikan sutradara akan mempengaruhi sikap para

pemain dan kru sehingga persoalan yang ada bisa dihadapi

bersama.

􀁸 Pengingat bahwa masalah bisa saja terjadi. Akan tetapi,

dengan saling memahami antara satu dengan yang lain, hal

itu bisa diatasi. Misalnya, dalam dress rehearsal kru panggung

salah menempatkan kursi, maka pemain bisa segera

mengatasi masalah tersebut secara improvisasi tanpa

mengganggu konsentrasi aktingya. Masalah ini selanjutnya

menjadi catatan kru agar tidak terulang lagi.

􀁸 Penghargaan terhadap jerih payah kerja yang telah dilakukan.

Dalam hal ini sutradara diperkenankan memuji hasil kerja

seluruh pendukung sehingga semangat kerja akan menjadi

lebih baik dan kualitas kerja menjadi lebih sempurna.

Setelah melakukan dress rehearsal, maka seluruh pendukung

diperbolehkan untuk istirahat dan menyipakan diri untuk menghadapi

pentas yang sesungguhnya. Hal ini penting untuk mengembalikan energi

dan menenangkan pikiran. Tekanan kerja yang terlalu berat justru tidak

akan menghasilkan produk yang maksimal. Apalagi produk tersebut

adalah teater yang berkaitan langsung dengan sisi psikologis manusia.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s